Bukan Sekadar Elektrik: Kenapa Konversi Mobil Klasik ke ‘Hydrogen-Fuel’ Jadi Tren Baru Kolektor Jakarta di 2026

Pernah nggak sih, lo ngelihat mobil klasik kesayangan trus mikir, “Sayang banget kalo suatu hari nanti nggak bisa dipake lagi gara-gara aturan emisi makin ketat”? Gue sering banget ngalamin itu tiap kali ngelihat Porsche 911 tua atau VW Kodok yang masih mulus. Dulu kita mikirnya konversi ke listrik. Tapi sekarang, di kalangan kolektor Jakarta, ada angin segar—atau tepatnya, angin hidrogen—yang mulai berembus. Konversi ke hydrogen-fuel bukan cuma soal teknologi ramah lingkungan, tapi ini udah naik level jadi gerakan “The Preservation of Legacy” . Bukan mengganti jiwa mobil, tapi mempertahankannya dengan cara yang lebih… elegan.

Kenapa hidrogen? Karena beda sama konversi listrik yang seringkali harus ngebongkar mesin asli dan ganti sama motor listrik plus baterai gede. Konversi hidrogen—khususnya hydrogen combustion—mengubah mesin pembakaran internal lo dari konsumsi bensin jadi konsumsi hidrogen, tanpa harus mengganti infrastruktur mesin secara total . Artinya? Suara khas mesin klasik lo tetep ada, karakter berkendaranya tetep terasa, cuma emisinya jadi bersih. Ini yang bikin para kolektor mobil klasik di Jakarta mulai melirik serius.


Kenapa Hidrogen Tiba-tiba Jadi Primadona Kolektor?

Bayangin, di 2026, tren kendaraan hidrogen makin populer. Produsen kayak Toyota dan Hyundai udah memproduksi mobil hidrogen (Mirai dan Nexo) dan teknologinya makin berkembang . Tapi yang bikin kolektor Jakarta ngiler bukan cuma mobil baru. Tapi potensi buat “menghidupkan kembali” koleksi klasik mereka dengan teknologi yang respect sama sejarah mobil tersebut.

Ini bukan cuma soal “go green” doang. Ini soal “gimana caranya supaya mobil klasik yang punya nilai historis tinggi nggak cuma jadi pajangan museum.” Konversi ke hydrogen-fuel memungkinkan mobil-mobil itu tetap bisa dikendarai di jalanan Jakarta tanpa ngerusak lingkungan. Dan yang lebih penting: tanpa mengubah esensi dari mobil itu sendiri.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghasilkan teknologi hidrogen dari hulu hingga hilir—dari pasir silika menjadi hidrogen, hingga penggunaannya dalam kendaraan dan peralatan rumah tangga.” — Rudiyana Supriadi, President Director PT HDI 

Dan ini bukan isapan jempol. Teknologi ini udah dibuktikan di Indonesia. PT HDI (Hidro Dinamika Internasional), perusahaan asal Bandung, berhasil mengonversi Daihatsu Terios 2017 menjadi kendaraan berbahan bakar hidrogen (hydrogen combustion vehicle) . Mereka pamerin ini di acara “Hydrogen Car Free Day” di kawasan BNI Dukuh Atas, Jakarta, akhir tahun lalu . Acara ini jadi bukti nyata kalo transisi energi di Indonesia bukan cuma wacana, tapi gerakan nyata . Dan yang bikin lebih keren: teknologinya pake Hydro-Si System, produksi hidrogen dari silikon hasil reduksi pasir silika lokal. Ini ekosistem hijau yang beneran lahir dari tanah air .


3 Contoh Konversi yang Bikin Kolektor Jakarta Kepincut

1. Daihatsu Terios 2017: Bukti Konsep yang Nyata

Ini yang paling konkret. Di Hydrogen Car Free Day, PLN SC dan PT HDI nampilin satu unit mobil hidrogen hasil modifikasi Daihatsu Terios 2017 yang dikonversi jadi kendaraan berbahan bakar hidrogen (hydrogen combustion vehicle) . Mereka nggak ganti mesin total. Mereka modifikasi sistem pembakarannya biar bisa pakai hidrogen . Ini penting banget buat kolektor klasik: mesin asli tetap utuh. Karakter berkendara, suara, dan “jiwa” mobilnya tetep terasa. Hanya bahan bakarnya yang berubah.

2. Potensi Restomod Klasik: Dari VW Kodok Sampe Porsche 911

Bayangin kalo teknologi yang dipake di Terios ini bisa diaplikasikan ke mobil-mobil klasik kayak VW Beetle (si Kodok), Porsche 911 klasik, atau bahkan Jeep Willys. Mesin-mesin tua yang selama ini dianggap “boros” dan “polutif” bisa dihidupin lagi dengan cara yang bersih. Ini mimpi basah buat para restomod enthusiast. Nggak ada lagi dilema antara “mempertahankan keaslian” dan “mengikuti aturan lingkungan.”

3. Nikuba: Alternatif dari Karburator ke Hidrogen (Tapi Masih Kontroversial)

Sebenernya, ide konversi ke hidrogen udah ada dari 2022 lewat alat bernama Nikuba (akronim dari Niku Banyu—Itu Air) buatan Aryanto Misel dari Cirebon . Alat ini menggunakan proses elektrolisis buat misahin Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2) dari air, terus hidrogennya dialirin ke ruang pembakaran sebagai bahan bakar . Bahkan udah dipasang di 31 unit kendaraan dinas TNI .

Tapi, perlu dicatat: Nikuba ini klaimnya bisa dipake di segala jenis motor dan mobil tua, tapi masih ada perdebatan soal efektivitas dan keamanannya . BRIN aja minta riset lebih lanjut . Tapi, ini nunjukkin kalo ide konversi ke hidrogen udah ada dan udah diuji coba secara nyata, bahkan di Indonesia.


Data yang Bikin Mikir

  • Potensi Penghematan BBM: Klaim dari Nikuba bilang bisa menghemat bahan bakar hingga 30% . Sementara di uji coba lain, penggunaan gas HHO (campuran hidrogen dan oksigen) pada mobil Kijang LGX 2003 bisa ningkatin efisiensi dari 8 km/liter jadi 12-13 km/liter .

  • Harga Terjangkau: Untuk satu unit Nikuba, dibanderol Rp4,5 juta . Ini jauh lebih murah daripada biaya konversi ke listrik yang bisa puluhan sampai ratusan juta.


Practical Tips: Actionable buat Kolektor yang Mau Mulai

  1. Cari Tahu Jenis Mesin Mobil Lo: Konversi ke hydrogen-fuel cocok buat mesin pembakaran internal (bensin atau diesel). Tapi tiap mesin punya karakteristik beda. Mobil dengan sistem EFI (Electronic Fuel Injection) kayak Terios di acara itu lebih gampang dimodifikasi .

  2. Jangan Langsung Modifikasi Sendiri: Ini masih teknologi baru dan butuh keahlian khusus. Cari bengkel atau ahli yang udah punya pengalaman dengan sistem hidrogen. PT HDI contohnya, mereka punya tim riset khusus .

  3. Mulai dari “Hybrid” Dulu: Sebelum full konversi, lo bisa coba sistem “penghemat” kayak Nikuba yang dicampur sama bensin. Kalo berhasil dan lo puas, baru pikirkan konversi total.

  4. Pantau Perkembangan Regulasi: Di 2026, pemerintah makin serius soal energi bersih . Pastiin modifikasi lo sesuai sama aturan yang berlaku biar nggak kena tilang atau masalah legal di kemudian hari.


Common Mistakes yang Sering Dilakuin

  • Anggap Semua Hidrogen Itu Sama: Ada hydrogen fuel cell (yang listrik) dan hydrogen combustion (yang bakar langsung di mesin). Dua-duanya beda banget! Kolektor klasik lebih cocok sama hydrogen combustion soalnya mesin tetep utuh .

  • Lupa Cek Keamanan: Hidrogen itu mudah terbakar. Sistem konversi harus punya sertifikasi keamanan yang jelas. Jangan asal pasang alat abal-abal.

  • Cuma Fokus ke “Kerennya”, Lupa Biaya: Biaya konversi mungkin masih mahal di awal. Tapi pertimbangkan sebagai investasi jangka panjang buat melestarikan koleksi lo, bukan cuma biaya operasional.


Kesimpulan: Konversi Hidrogen Adalah Bentuk Cinta pada Mobil Klasik

Jadi, konversi mobil klasik ke hydrogen-fuel di 2026 ini bukan cuma tren teknologi. Ini adalah bentuk “Preservation of Legacy” —cara baru buat ngerawat warisan otomotif dengan tetap relevan di zaman yang makin sadar lingkungan. Di Jakarta yang makin padat dan aturan emisi makin ketat, ini jadi solusi elegan. Bukan mengorbankan jiwa mobil demi teknologi, tapi memadukan keduanya dalam harmoni. Dan yang lebih membanggakan, teknologi ini lahir dari riset anak bangsa . Jadi, buat lo para kolektor, mungkin ini saatnya mikir: “Gimana kalo Porsche 356 gue yang dulu karburator, sekarang… hydrogen?”